Yakin Usaha Sampai Raih Gelar Doktor Dengan Modal Nekat
Keterangan Gambar : Dr. M. Rajab

Yakin Usaha Sampai Raih Gelar Doktor Dengan Modal Nekat

684 views
2

Kendari, Radarsultra.co.id – Alur penyelesaian studi hingga ke jenjang Doktor (S3) bukanlah hal yang mudah untuk ditaklukkan, apalagi dengan himpitan ekonomi dan lokasi studi yang jauh dari kampung. Dibutuhkan niat, tekat, kerja keras dan kesabaran untuk menyelesaikannya.

Seperti halnya Dr. M. Rajab Rusman, S.K.M, M.Kes, pria Kelahiran Buon Utara (Butur) pada 1980 lalu ini berhasil meraih gelar Dokror Manajemen Pemasaran di Universitas Halu Oleo (UHO) pada 28 Januari 2020.

Lahir dari keluarga sederhana, perjalanan Dr. M.Rajab Rusman dimulai ketika ia menjalani perkuliahan Strata Satu (S1) di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Tamalate Makassar.

Awalnya saya berangkat dari kuliah saya waktu di S1. Yang membuat saya banyak termotivasi untuk melanjutkan sampai di program doktor ini pertama adalah ketika saat itu saya terjepit dengan kondisi ekonomi,” Kata pria yang akrab disapa bang Rajab itu.

Kondisi ekonomi yang sangat terbatas mengharuskannya untuk berusaha lebih keras lagi dari mahasiswa pada umumnya. Untuk bisa bertahan dan terus berjalan menyelesaikan perkuliahan S1nya, Dr. M. Rajab samapai harus tinggal di Mushola Kampus dan menjadi tukang becak di Makassar. Itu dijalaninnya sejak taun 2002 hingga 2004.

Dari himpitan keadaan saya yang begitu keras membuat saya termotivasi sampai harus saya mau selesaikan sampai S3,” kisahnya.

Dengan melewati proses kehidupan yang begitu keras, Dr. M. Rajab akhirnya bisa menyelesaikan studi S1nya dan bertekad untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.

Dalam proses itu lalu kemudian setelah saya wisuda S1 saya nekat untuk ambil S2 tanpa biaya awal untuk masuk, saya harus nekat, dengan modal nekat saya coba tembus untuk ambil program Pascasarjana saya di Unhas,”ungkapnya.

Setelah menyelesaikan Program Master Kesehatan Masyarakat (S2 Kesmas) Fakultas Kesehatan Masyyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas), dengan semangat dan motivasi yang tinggi, Dr. M. Rajab seakan tidak ingin berhenti berkutat di dunia pendidikan hinnga meraih gelar Doktor, namun nasib berkata lain, saat mendaftarkan diri untuk program Doktor di Makassar, Dr. M. Rajab dinyatakan tidak lolos dan perjalanan studinya harus terhenti.

Setelah itu saya selesai saya sebetulnya ingin melanjutkan terus sampai di S3, pada tahun 2008 saya selesai S2 bahkan saya sempat tes di program S3 Unhas namun pada saat itu saya belum bisa tembus, lolos, hanya satu perkataan yang disampaikan oleh ibu saya yang selalu saya ingat apakah kamu mau kerja dulu atau mau sekolah terus, dengan itu maka sebagai anak saya harus patuh pada kedua orang tua, kepada ibu apa lagi ibu yang sudah memberi saya sinyal untuk mau bekerja sehingga saya memutuskan untuk kerja dulu dan saya tes PNS lolos tahun 2009, itulah yang kemudian menjadi motivasi saya,” lanjutnya.

Setelah dinyatakan tidak lolos dalam program Doktor di Makassar, sesuai nasehat ibunya, Dr. M. Rajab memutuskan untuk bekerja dan mencoba peruntungan pada seleksi CPNS di Kabupaten Buton Utara. Nasehat seorang ibu adalah kunci kesuksesan seorang anak, Dr. M.Rajab akhirnya lolos dan menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Buton Utara dan Petualangan Studinya kembali dimulai.

Setelah itu saya bekerja, saya lolos PNS, 5 (lima) tahun bekerja saya nekat kembali untuk mengambil program Doktor di UHO pada 2014, setelah 5 (lima) tahun bekerja saya memutuskan untuk kembali mewujudkan apa yang menjadi niatan awal saya, cita-cita saya untuk menjadi doktor dan menyelesaikan puncak tertinggi saya di bidang akademik,”

Dr. M. Rajab akhirnya diterima di UHO dalam program Doktor Manajemen Pemsaran dan perjuanganpun dimulai. Selama menjalani perkuliahan program Doktor di UHO, Dr. M. Rajab yang notabenenya sebagai seorang PNS di Buton Utara harus menempuh perjalanan puluhan bahkan ratusan kilo meter dari Kabupaten Buton Utara ke Kota Kendari.

Lalu kemudian pada saat saya mengambil S3 ini terus terang hiruk pikuk suka duka saya alami ketika saya melintas dari Buton Utara ke Kendari dengan menggunakan motor, jadi setiap Minggu 2 kali saya pulang pergi. Begitu kerasnya dulu sampai belum ada feri kita harus angkat-angkat motor naik di katinting laku kemudian menyebrang ke daratan Konawe Selatan dan melanjutkan perjalanan ke Kendari,”