Tradisi Daerah Butur, “Perere” Dilestarikan Dalam Giat Barata Kulisusu
Keterangan Gambar :

Tradisi Daerah Butur, “Perere” Dilestarikan Dalam Giat Barata Kulisusu

311 views
0

Buton Utara, Radarsultra.co.id – Tradisi daerah Kulisusu, Kabupaten Buton Utara (Butur) yang dikenal dengan sebutan “Perere” (Sunat adat Kulisusu) terus dilestarikan oleh Pemerintah Daerah dari generasi ke generasi.

Peserta Parere

Di masa kepemimpinan Bupati Butur, Abu Hasan, sunat adat Kulisusu atau Perere yang biasanya dilaksanakan secara sendiri-sendiri atau paling banyak 4 (empat) hingga 6 (enam) orang dalam sekali prosesi Perere, melalui giat Barata Kulisusu dilakukan secara masal dengan peserta mencapai 40 orang anak.

Prosesi Mebulili, Peserta Parere diarahkan untuk berputar ditempat dan di putari wadah Dupa

Bupati Butur, Abu Hasan yang ditemui pada pembukaan acara Perere masal mengatakan, dalam giat Barata Kulisusu tersebut, 40 anak-anak usia 9 (sembilan) sampai 11 (sebelas) tahun yang berasal dari 5 (lima) Kecamatan akan melaksanakan prosesi adat atau syariat peng-Islaman anak-anak di tanah Kulisusu.

“Ini awal dari rangkaian acara Barata Kulisusu, salah satu acara intinya adalah pelaksanaan adat dan sekaligus syariat terkait dengan pengislaman anak-anak, pengislaman dalam arti secara adat, mereka (anak-anak) itu ada sebuah siklus dalam kehidupan mereka yang harus mereka lewati untuk pada masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, itulah namanya Perere yang diawali dengan prosesi haroa pada malam hari ini, kemudian nanti malam mereka sudah mulai tahapan awal untuk dilakukan proses adat,” kata Abu Hasan, Senin, (12/08/2019).

Abu Hasan mengungkapkan, daerah di tanah Buton dan Muna juga melakukan hal serupa namun dengan ciri khasnya masing-masing. Di Kulisusu, prosesi adat ini akan dilakukan secara bertahap mulai dari Haroa atau pembacaan doa, Pebulili, Peburampae atau pemakaian bedak di sekujur tubuh, Pekadea atau mewarnai seluruh kuku dengan daun pacar, Sod’a atau arak-arakan keliling kampung, hingga prosesi Peuhu yang menandakan keseluruhan prosesi Perere sudah dilaksanakan.

Uniknya, selama masa Peburampae dan Pekadea, anak-anak peserta Perere dilarang untuk berdiri dan hanya diizinkan berpindah tempat dengan cara bergerak duduk atau ngesot.

“Dulu Buton itu adalah suatu wilayah kesultanan, lalu daerah-daerahnya itu daerah-daerah bagian yang strategis seperti Tiworo, Kaledupa, Muna dan Kulisusu itu merupakan daerah-daerah strategis, itulah yang dinamakan Barata, suatu daerah otonom yang memiliki kedaulatannya sendiri tetapi  sentralnya di kesultanan Buton,” ungkapnya.

“Ini akan berlangsung secara otomatis sampai dengan Peuhu, itu rangkaian terakhir yah, Peuhu itu mereka akan di sod’a atau diarak, dipikul oleh keluarga mereka keliling kota kemudian mereka kita tempatkan di satu lokasi kemudian itu namanya Peuhu, Peuhu itulah akhir dari rangkaian acara Perere secara keseluruhan,” jelasnya.

Selama masa kepemimpinannya, Pemda Butur sudah 2 (dua) kali melaksanakan giat Barata Kulisusu. Hal tersebut tentunya disambut antusias yang tinggi dari masyarakat.

“Ini tahun kedua kita lakukan dan apresiasi masyarakat cukup tinggi karena kalau mereka mau lakukan sendiri-sendiri juga membutuhkan waktu, butuh tenaga, biaya dan lainnya, dengan dilakukan secara kolektif, mereka masyarakat merasa terbantu. Anak-anaknya mereka sudah melewati proses itu tanpa mengeluarkan energi dan lainnya,” ungkapnya.

Sebagai Bupati Butur yang juga pernah melewati seluruh masa transisi dari anak-anak hingga menjadi pemimpin tertinggi di daerahnya, Abuhasan mengaku sangat antusias untuk menjaga dan melestarikan budaya-budaya warisan leluhur tanah Kulisusu WITA Tinadeakono Sara.

“Saya ingin ini lestari, sebagai bupati hari ini saya sangat konsen dengan budaya, semua budaya-budaya kita yang dulu menjadi karakteristik masyarakat ini harus kita angkat dan kita hidupkan kembali, salah satu modelnya adalah seperti ini (Barata Kulisusu) sehingga masyarakat Buton Utara merasa memiliki dan merasa bertanggung jawab untuk melestarikan, generasi yang baru juga bisa melihat ternyata kita punya atraksi budaya yang seperti ini,” imbuhnya.