Totalitas Demi Kemajuan Pertanian
Keterangan Gambar : Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak) Sultra, Muhammad Nasir

Totalitas Demi Kemajuan Pertanian

0

Ir. H. Muhammad Nasir, MS salah satu pejabat struktural eselon II di lingkungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara yang terbilang cemerlang. Deretan panjang karir dan kiprahnya di dunia birokrasi sebuah fakta akan prestasinya.

Muhammad Nasir dilahirkan di Tobeu-Kendari pada 26 Juni 1959. Pria dengan pangkat terakhir Pembina Utama Madya IV/d ini menjabat Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tenggara sejak 16 Januari 2014 silam.

Di bawah polesan tangan dinginnya, Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra menorah banyak prestasi nasional setiap tahun. Bagaimana kiat Muhammad Nasir?

“Pertama, sebagai pimpinan harus tahu dan mampu memetakan potensi SDM dan SDA serta sumber daya lainnya yang ada di sebuah unit kerja. Setelah mengetahui potensi kemudian mengambil kesimpulan,” bebernya.

Tantangannya, mengubah mindset  ASN yang selama ini bekerja asal jadi, menjadi sesuatu yang bisa dibanggakan, sifatnya perfect, harus mencapai kesempurnaan, walaupun orang mengatakan itu mimpi. Tetapi dengan kemauan untuk selalu memperbaiki dan selalu mengubah tradisi malas berkantor, atau masuk kantor tapi tidak ada output, pulang kantor juga seperti itu. “Itulah tantangan pertama yang saya ubah di kantor ini. Tidak ada kemajuan tanpa perubahan dan perubahan dimulai dari mindset atau cara berpikir, tandasnya.

“Dengan mengubah itu, mulailah kita bekerja sesuai tatanan. Setiap kegiatan harus berdasarkan ketentuan perundang-undangan agar kita bisa melangkah dengan pasti menuju tujuan sasaran yang kita capai. Kita tidak bisa menaruh sasaran apa adanya. Harus ada lompatan-lompatan, dan harus ada target waktu yang ingin kita capai”.

Muhammad Nasir menjadi Pelaksana Tugas di Distanak Sultra sejak November 2013 dan definitif Januari 2014. “Sejak 2013 saya melihat kantor sangat tidak terawat, kemudian saya mengusulkan untuk dilakukan rehabilitasi, lalu dianggarkan, dan alhamdulillah terwujud. Saya menargetkan paling lambat tiga tahun sudah harus mecapai predikat sebagai kantor terbersih, dan itu tercapai. Tiga tahun kemudian kita mendapat predikat kantor terbersih tingkat Provinsi Sultra,” kenangnya.

Sebelum menjadi orang nomor wahid di Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra, jabatan fungsional dan struktural sudah ia emban mulai dari level bawah, misalnya pernah menjadi Kepala UPP Kelapa PRPTE Disbun Sultra, 31 Agustus 1984.

Pernah menjadi Pimpro PPTI APBD-I Sultra pada Disbun Sultra, lalu Kepala Laboratorium Lapangan Disbun Sultra, Pimpro SRADP Disbun Sultra, dan karirnya menanjak tetrus hingga dipercaya menjadi Kepala Seksi Diversifikasi Disbun Sultra.

Pada 17 Maret 2001 Walikota Kendari memberinya tugas sebagai Kepala Subdinas Tanaman Pangan & Hortikultura Dinas Pertanian Kota Kendari. Tak lama kemudian Bupati Kendari mengangkatnya sebagai Kepala Bidang Pemerintahan Bawasda Kabupaten Kendari pada 4 Juni 2002.

Karirinya di Kabupaten Kendari terus menanjak hingga menjadi Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Kendari tahun 2003, lalu kemudian menjabat Kepala Dinas Kehutanan Kabupaten Konawe tahun 2004. Pada saat ini Kabupaten Kendari berganti nama menjadi Kabupaten Konawe.

Masih di Kabupaten Konawe, Muhammad Nasir kian mendapat peran hingga mengisi banyak posisi strategis, seperti Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan, Kepala Dinas Pertanian (Merger TP dan BUN), lalu Kepala Dinas Pertanian (Merger TP, BUN & Peternakan), hingga menjadi Kepala Bappeda dan Penanaman Modal Daerah pada 9 Desember 2010.

Melihat prestasi Muhammad Nasir yang mentereng ini, Gubernur Nur Alam, kala itu terpikat ingin memboyongnya ke provinsi. Sebelum menjabat Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Sultra, awalnya Muhammad Nasir mendapat kepercayaan sebagai Kepala BPMPD Provinsi Sultra pada 1 Meret 2012.

Kepercayaan sang gubernur ia jawab dengan prestasi kerja. “Kita mengelola semua sistem yang ada. SDM kita pacu. Saya selalu membimbing secara langsung baik level eselon tiga, lebih-lebih di level paling bawah. Alhamdulillah atas arahan yang intensif tanpa kenal lelah dan merasa bosan untuk melakukan pembinaan, cukup banyak predikat dan prestasi yang secara fungsional diberikan apresiasi oleh pemerintah, baik provinsi maupun pusat,” bebernya.

Hasilnya, capaian kinerja Distanak Sultra diapresiasi oleh Kementerian Pertanian. Distanak Sultra selalu berada pada lima besar terhadap target-target setiap tahun yang diberikan Kementan kepada Pemerintah Provinsi Sultra.

Dalam waktu 10 tahun terakhir, luas panen tumbuh 5,69 persen. Tentu saja produksi juga tergerak naik sebesar 6,21 persen. Di tahun 2017, produksi padi mencapai 711.401 ton. Atas berbagai capaian itu, surplus pada tahun 2017 mencapai 144.158 ton dengan tingkat konsumsi rata-rata sebesar 96,3 kg per kapita per tahun.

Pekerjaan berat Muhammad Nasir berikutnya adalah memproduksi beras premium yang diperoleh dari beras-beras lokal, seperti varietas Mekongga dan Konawe. Di pasaran, beras premium ini diberi nama beras anoa. Beras organik juga disasar. Distanak Sultra memfasilitasi pengembangan beras organik (beras merah) di Kabupaten Buton Utara. Tahun 2018 ini, sebanyak 700 ha lahan padi organik mendapatkan bantuan benih dan pupuk bagi petani yang ada di Butur.

Selain padi, komoditi lain seperti jagung juga mengalami peningkatan yang signifikan. Dari tahun 2016 sampai 2017, produksi naik sebesar 91 persen. Tahun 2016 produksi sebesar 90.007 ton dan tahun 2017 naik menjadi 172.078 ton. Peningkatan tersebut dipengaruhi pula oleh dukungan pemerintah pusat. Tahun 2018, Sultra mendapat alokasi pengembangan jagung hibrida seluas 5.400 ha.

Serapan anggaran pun selalu baik, tidak pernah kena penalti, atau diberikan punishman. Demikina juga di tingkat provinsi, oleh Direktorat Jenderal Anggaran langganan memberikan penghargaan atas capaian dan pelaporan pengelolaan anggaran terbaik. Penghargaan juga diberikan lembaga independen, selain lembaga pemerintah.

Pada Oktober 2018, Muhammad Nasir menerima penghargaan Tokoh Inovatif Birokrasi dari Kendari Pos. Penghargaan ini diberikan karena ia dipandang berhasil memimpin tim Distanak Sultra dalam melakukan swasembada beras dan pengembangan pertanian. Kantor Bahasa Sultra juga memberikan peringkat ke tiga dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar bagi Distanak Sultra.

“Intinya, saya bekerja bukan untuk meraih penghargaan. Saya ingin memastikan diri saya bahwa amanah yang diberikan saya kerjakan dengan penuh tanggung jawab, dan harus kita maknai sebagai ibadah,” tandasnya.

Ia tak memilih waktu khusus untuk bekerja. Bagi Muhammad Nasir, semua waktu adalah jam kerja, dimanapun berada ia menyelesaikan pekerjaan tanpa birokrasi bertele-tele. Menurutnya, sebagian besar pekerjaan administrasi tanda tangan, disposisi yang tidak selesai di kantor, ia bawa pulang ke rumah dan selesaikan hari itu juga.

“Saya juga sampaikan ini kepada staf. Bahwa yang akan mengerjakan pekerjaan kita bukan siapa-siapa tetapi kita sendiri. Begitu kita menunda untuk esok hari berarti kita juga menunda capaian-capaian yang akan kita peroleh ke depan. Itulah prinsip kerja saya,” tegasnya.

Meski sangat sibuk Muhammad Nasir tetap memanfaatkan hari libur untuk berolahraga. Aktifitas olahraga badminton ia lakukan dua kali seminggu. “Motto hidup saya, tidak ada kemajuan tanpa perubahan dan perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Seperti kemajuan teknologi harus kita update agar hidup kita maju.”

Muhammad Nasir melewati pendidikan dasar di SDN Rahabangga tahun 1970, menamatkan SMPN Wawotobi tahun 1973, kemudian selesai pada SMAN Wawotobi tahun 1976. Pendidikan tingga (S1) ia tempuh di Fakultas Pertanian Jurusan Proteksi Tanaman, Universitas Hasanuddin, Ujung Pandang tahun 1983. Jenjang magister (S2) ia selesaikan pada Fakultas Pasca Sarjana, Pertanian Ilmu Hama Tumbuhan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tahun 1991.

Pendidikan adalah prioritas pria cerdas ini. Muhammad Nasir bertutur, ia menjadi langganan juara kelas kala di bangku sekolah. Selalu juara satu di tingkat SD, SMP dan SMA. Memang pendidikan sangat ia perhatikan baik untuk anak-anaknya mapun para staf di kantornya. Bekerja sambil kuliah bagi pegawai. Muhammad Nasir menyadari SDM adalah kunci kemajuan peradaban manusia.

Menurut Muhammad Nasir, perlu mengubah strategi belajar sehingga tidak ketinggalan jauh dari daerah yang sudah maju. ‘‘Jika mereka belajar hanya 1 jam maka kita harus melipatgandakan 2 sampai 3 kali lipat. Terbukti, ketika menempuh kuliah S2 tahun 1988 di Universitas Gajah Mada, hanya dua orang yang sanggup wisuda pertama di angkatan saya, dan saya salah satunya. Seperti saya bilang, harus ada strategi, begitu juga sebagai pemimpin harus punya strategi,” tandasnya.

Strateginya saat kuliah antara lain, setiap kata yang diucap dosen dicatat. Pada saat-saat tertentu ia membawa rekaman seperti wartawan, kemudian dibuat resume dan pendalaman di perpustakaan. “Alhamdulillah target tercapai. Saat itu saya bilang, ketika ada wisuda pertama angkatan saya, maka saya harus ada di sana,” tuturnya berkaca-kaca.

Sebagai seorang birokrat karir hampir semua jenjang pendidikan dan pelatihan kepemimpinan sudah ia selesaikan. Misalnya, SPAMA Depdagri tahun 1997 dan Diklatpim Tk. II tahun 2003. Tak ketinggalan pendidikan dan pelatihan fungsional seperti: Induction training tahun 1985, sistem managemen proyek tahun 1986, dan penataran pimpro tahun 1987.

Pendidikan dan pelatihan teknis yaitu perencanaan pembangunan perkebunan tahun 1986, TOT human resource dev (HRD) tahun 1994, dan lokakarya dan pelatihan Kadis Kehutanan Kabupaten tahun 2004.

Muhammad Nasir mengaku memberi perhatian serius ketika menjalani pendidikan baik formal maupun penjenjangan. “Setiap pelatihan dan diklat, saya selalu menjadi orang yang disematkan penghargaan. Saya selalu tekad agar dipanggil naik ke podium. Kita harus memotivasi diri. Motto saya, kalau orang lain bisa, saya juga harus lebih bisa,” pungkasnya.

Selama 14 tahun 9 bulan saya menjadi staf, diberi kepercayaan dalam pengelolaan proyek, setelah itu baru dapat jabatan struktural yaitu kepala seksi eselon IV.B Disbun Sultra. Selama 1 tahun 3 bulan menjabat di eselon IV.B dapat promosi di eselon III.A di Kota Kendari. Selama 1 tahun dan 11 bulan menjabat di eselon III.A dapat promosi di eselon II.B. Mulai 17 Februari 2003 sampai sekarang menjabat di eselon II,” kenang Muhammad Nasir.

Tahun pertama memimpin Distanak Sultra pada 2014, ia mencoba menggali potensi, kemudian menyiapkan infrastrukturnya yakni alat dan mesin pertanian melalui APBN dan APBD. Pada 2013 dan 2014 PAD Distanak Sultra hanya Rp 200 juta lebih. “Saya lalu mengevaluasi bahwa ada potensi besar yang belum tergali dan terolah dengan maksimal. Setelah itu saya mulai tingkatkan sampai mencapai Rp 1,5 miliar pada tahun 2016,” katanya.

Pegawai Distanak Sultra 600 lebih, sementara yang berkantor di sini 200an, kerja ini adalah kerja bersama, tim work harus bekerja sesuai kewenangan masing-masing. Saya tegaskan kepada semuanya, harus mengerti kewenangan dan tanggung jawab, dari situlah kita bisa berbuat.

“Terus terang saya bekerja di tahun pertama, akhir 2013, bekerja berat sampai 6 bulan pertama. Namun sekarang sistem sudah berjalan, dimanapun saya berada, saya bisa kontrol dan semua berjalan. Terbukti realisasi kerja dan serapan anggaran kita selalu berada di atas,” ujarnya.

Muhammad Nasir meraih penghargaan dari pemerintah, diantaranya Satya Lencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden Megawati Sukarnoputri, dan Satya Lencana Karya Satya 30 tahun dari Presiden RI. Penghargaan lain berupa Kepala Dinas Teladan bidang pembinaan PNS tingkat Kabupaten Konawe tahun 2008, dan Kepala Dinas Teladan tingkat Kabupaten Konawe tahun 2009.

Di balik padatnya kesibukan birokrasi melayani masyarakat, Muhammad Nasir masih menyempatkan diri menggeluti dunia organisasi. Di bidang olahraga ia tercatat sebagai Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Konawe tahun 2004-2009, dan Ketua Umum Tae-Kwondo Indonesia Kabupaten Konawe tahun 2010-2015,

Di bidang sosial kemasyarakatan ia menjadi Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Konawe 2007-2011, Ketua Umum Pimpinan Daerah Muhammadiah Kabupaten Konawe tahun 2011- 2014, Sekretaris Umum Lembaga Adat Tolaki Kabupaten Konawe tahun 2010-2014, Pengurus Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada) Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Ketua Harian HKTI Prov Sultra periode 2014-2019.

Kesibukan yang padat merayap tak membuat Muhammad Nasir melupakan keluarga. Anak dan istri senantiasa mendukung segala aktifitasnya. Mereka menyadari tanggung jawab sang ayah yang berat, sehingga memaklumi jika waktu untuk mereka sedikit berkurang.

Menikah dengan wanita cantik bernama Hj. Sri Asriani Balaka, B.Sc, seorang dosen pada Akademi Perawat Kendari. Pasangan bahagia ini dikaruniai tiga orang anak, yakni Fahry Shamad, SH, Faizal, SH, MH, dan Dyta Asnasari, S.I.Kom.

Muhammad Nasir dan keluarga tercinta saat ini bermukim di Jalan Nusa Indah No. 220 Kelurahan Parauna, Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe, dan Jalan Y. Wayong II No. 23 C Kota Kendari.

“Saya menjalankan fungsi ganda dan multi fungsi. Hubungan emosional dengan istri dan anak tetap berjalan baik, urusan rumah tangga tidak pernah saya abaikan, begitu juga dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Terkadang waktu kerja kita di Distanak sampai larut malam, saya kerja juga di rumah sampai jam 1 malam saya selesaikan, karena itulah pilihan, hidup itu pilihan. Kecuali saya tertidur baru saya lupakan aktivitas saya,” bebernya.

Muhammad Nasir menghabiskan masa kecil dalam kondisi ekonomi yang cukup memprihatinkan. Anak keempat dari lima bersaudara ini pun ikut membantu orang tuanya mencari uang agar bisa melanjutkan sekolah. Gaji orang tua yang hanya PNS golongan rendah di Pemda Kendari, tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kami bersaudara sepakat bahwa pendidikan laki-laki harus didahulukan, sehingga saudara perempuan saya mengalah saat itu. Diprioritaskan laki-laki untuk menempuh pendidikan lebih tinggi. Jadi hanya tiga kami laki-laki yang sekolah tinggi sampai jenjang S2,” kenangnya. ***

 

About author

andi nur aisyah

My nickname icha, i was born on October 21, 1990