Tidak  Dilirik Pemerintah Koltim, Tanaman Sagu Terancam Punah
Keterangan Gambar :

Tidak Dilirik Pemerintah Koltim, Tanaman Sagu Terancam Punah

267 views
0

Kolaka Timur, Radarsultra.co.id – Jangan mengaku orang Timur kalau belum merasakan nikmatnya makanan khas Orang Timur. Berbeda nama, namun rasanya sama. Perbedaan masing-masing daerah yang mengkonsumsi sagu, di Papua menyebutnya Papeda, sedangkan di Makassar menyebutnya Kapurung.

Di Sulawesi Tenggara, dari beberapa makanan khas, hanya Sinonggi yang berbahan dasar sari pati Sagu.

Sinonggi ini merupakan makanan pokok suku Tolaki yang mendiami wilayah Sulawesi Tenggara.

Suku ini mempunyai tradisi menyantap Sinonggi bersama-sama, yang disebut Mosonggi.

Kini, makanan kuliner tersebut telah mengalami pergeseran makna dan bersaing dengan nasi.

Budidaya tanaman sagu di beberapa daerah, khususnya Kabupaten Kolaka Timur, hingga saat ini tidak pernah dilirik oleh pemerintah.

Padahal potensi sagu sangat luar biasa bila dikembangkan secara optimal.

Masih belum banyak industri yang tertarik untuk mengolah sagu, karena mereka melihat tidak dibudidayakan di daerah.

Sehingga bahan pangan ini dianggap kalah kelas dibandingkan bahan lain seperti beras. Padahal sagu merupakan bahan pangan inferior, dengan indeks glikemik rendah sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes.

Karena memiliki indeks glikemik rendah inilah, sagu cepat mengenyangkan dan tahan lama serta tidak menyebabkan kegemukan.

Sagu di Koltim kini mulai pupus, diakibatkan kurangnya budidaya di beberapa tempat. H. Candra, salah seorang pengusaha industri sagu di Lalolae mengatakan, bisa jadi lima tahun mendatang sagu di Koltim punah.

“Jika pemerintah tidak melakukan tindakan secepatnya, saya yakin sagu di Koltim akan pupus,” katanya, Minggu (19/3).

Menurutnya, pemerintah tidak pernah menyadari jika sebentar lagi salah satu makanan pokok orang Sultra akan hilang, akibat tidak adanya perhatian untuk tanaman itu.

“Saya harap secepatnya, pemerintah bertindak untuk mengantisipasi pupusnya Sinonggi di Koltim,” harapnya. (C)

About author