Tari Kuda Lumping, Budaya Jawa yang Hidup di Bumi Anoa
Keterangan Gambar : pendiri sanggar seni Jaranan Buto Marka Tilaras

Tari Kuda Lumping, Budaya Jawa yang Hidup di Bumi Anoa

419 views
0

Konawe Selatan, Radarsultra.co.id – Menjadi masyarakat transmigrasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) tidak menjadi penghalang bagi suku Jawa untuk terus mengembangkan budaya Tari Kuda Lumping atau Jaranan.

Untuk terus menghidupkan budaya leluhur asli Jawa Timur, Banyuwangi tersebut dibentuklah sanggar-sanggar seni, salah satunya sanggar seni Jaranan Buto Marka Tilaras.

Sanggar seni yang berdiri sejak 29 Oktober 2004 di desa Tirta Martani Kecamatan Buke, Kabupaten Konsel ini secara konsisten mengembangkan seni Jaranan sebagai hiburan bagi masyarakat Nusantara.

Ketua Sanggar Jaranan Buto Marka Tilaras, Suwandi (54) mengatakan, ia mempelajari seni Jaranan dari tanah Jawa hingga akhirnya ia pindah ke Sulawesi Tenggara sebagai warga Transmigrasi di Kabupaten Konsel.

Saya belajar langsung dari Jawa, di Sultra ini kami (masyarakat transmigrasi) pada umumnya berprofesi sebagai petani. Kalau bertani biasa kami jenuh dan sebagai pengisi waktu luang dan pengusir jenuh kami main kuda lumping sembari melestarikan budaya,” kata warga asli Banyuwangi tersebut, Minggu, (15/03/2020).

Senada dengan perkataan Suwandi, salah satu pendiri sanggar seni Jaranan Buto Marka Tilaras, Eko Sunarto (45) mengatakan, Budaya Jaranan diwariskan secara turun-temurun dimulai sejak dini kepada anak-anak keturunan Jawa mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), SD, SMP, SMA Mahasiswa dan dewasa yang sudah berkeluarga.

Anak-anak Dari TK sudah main sekarang sudah kelas 1 SD sengaja diikutkan anak-anak kecil tujuannya untuk membentuk mental dan karakter anak-anak supaya tidak malu tampil di hadapan orang banyak,” ungkap Eko.

Sanggar seni Jaranan Buto Marka Tilaras saat ini beranggotakan 70 personil mulai yang terdiri dari 15 orang pemain musik tradisional dan 55 pemain Kuda Lumping atau Jaranan.

Untuk penerimaan anggota, kami menerima siapapun yang memiliki kemauan dari individu itu sendiri, kalau di sanggar kami pemainnya campuran, ada dari Tolaki, Ereke, dan Jawa” terangnya.

Kuda lumping merupakan budaya yang tercipta dari cerita kerajaan-kerajaan Nusantara, Konon katanya pemain kuda lumping wanita merupakan pengiring putri raja yang dinamakan Pegon. Sedangkan pemain kuda lumping laki-laki mengisahkan pasukan prajurit perkasa yang menjaga kerajaan Jawa di masa lampau.

Kuda Lumping ini murni seni, kita tidak pernah mendatangkan setan, kalau yang katanya sesajen itu sebagai hiasan untuk memperkuat karakter Kuda Lumping itu sendiri, namun dalam pertunjukan terkadang ada yang kerasukan namun itu bukan dari kami yang memanggil, jadi jangan disalah artikan, kuda lumping tidak syirik,” jelasnya.