Perjalanan Sang Dua Bintang Menuju Sultra Baru (Bagian 3)
Keterangan Gambar : mayjen supomo bersama tokoh masyarakat bau bau

Perjalanan Sang Dua Bintang Menuju Sultra Baru (Bagian 3)

508 views
0

Marsda H Supomo Sip, Msc dan sahabatnya sudah melakukan perjalanan panjang lintas negara, hingga pelosok pesisir Muna, tanah leluhurnya. Namun, rencana untuk berkunjung ke Maginti harus di ulur demi menemui sang nenek di Kota Bau-bau.

Dengan menaiki kapal penumpang, Supomo bersama sahabat-sahabatnya kembali berlayar di antara teduhnya samudera. Menempuh perjalanan selama setengah jam. Riuh canda mengiringi perjalanan tim Sahabat Pomo. Teduhnya samudera mengiringi perjalanan dalam luapan kebahagiaan yang mengharu biru.

Hingga tibalah rombongan di kediaman sang nenek. Disambut dengan hangatnya secangkir teh manis, sang nenek bercerita tentang masa remaja sang jenderal.

Mayjen Supomo bersama sang nenek

Rupanya, sang nenek tidak banyak mengukir kisah masa remaja Supomo, karena Supomo pada masa itu harus mengemban tugasnya sebagai perwira di negara paman Sam (Amerika Serikat, red) setelah menamatkan pendidikan AKABRI di bumi pertiwi.

Hanya sekelumit kisah yang diuraikannya. Supomo, dimata sang nenek adalah cucu kebanggaan yang bertutur lembut, namun berwatak keras.

Upaya sang jenderal untuk menempuh cita-citanya sebagai perwira tidak main-main. Bermodalkan uang Rp 500 rupiah, Supomo akhirnya berhasil meyakinkan keluarga tentang pilihan hidupnya menjadi perwira.

Pada akhirnya, Supomo direstui keluarga. Supomo lalu melanglang buana lintas 11 negara Eropa hingga akhirnya iakhir masa tiba di pangkuan bumi pertiwi, menuju Sultra baru.

Perjalanan ini masih berlanjut dengan seribu teka-teki. Namun semangat juang Sahabat Supomo tidak berhenti sampai di sini.

Supomo meninggalkan pulau Buton dengan menyimpan cita-cita luhur. Masyarakat Pasarwajo dan semua kerabat pun mengantarkan kepergian Supomo dan sahabat-sahabatnya.

Restu direngkuh, Supomo dengan teguh akan melanjutkan perjalanan nya, bersama sahabat-sahabatnya kembali berlayar menuju Raha, senja pun memantulkan kebahagiaan dalam perjalanan kami.

Tak ada sedikitpun guratan letih di wajahnya, teduhnya samudera hingga malam memeluk senja, menjadi candu semangatnya untuk terus berjuang.

Perjalanan masih panjang, hingga merangkak malam, kami lalu berpisah. Supomo masih harus melanjutkan perjalanan untuk menyapa warga dibelaham bumi di Sultra. Ibarat pejuang, sang Jendral akan terus berjuang sampai apa yang menjadi keinginan warga dan memajukan Sultra menjadi lebih baik akan terus berjalan.

‘’Selalu ada harapan, jika kita yakin dan ikhlas dalam berjuang,’’ kata Supomo.

Mungkin sosok penganti Nur Alam menjadi Gubernur Sultra periode mendatang masih teka-teki, namun harapan untuk mengabdi kepada Sultra tidak hanya sebatas mimpi, Supomo meyakini, perjuangan dan doa, pada akhirnya bersambut oleh restu ilahi. (Tamat)
\

About author

Alifiandra Lala

Reporters. Graduated from faculty of science admnstrasi, Haluoleo University, Southeast Sulawesi. Stay on city of Kendari, Southeast Sulawesi. Street in Supu Yusuf 2. I love traveling, writing, poetry and singing. I am very pleased to have the opportunity to work in radarsultra.co.id. Thank you for the trust and the opportunity that has been given.