Panen Raya Padi Organik, Dinas Pertanian Butur Tertarik Kembangkan Pertanian Sawah Organik
Keterangan Gambar : Pemda Butur kembangkan pertanian organik di lahan seluas 1.647 hektar.

Panen Raya Padi Organik, Dinas Pertanian Butur Tertarik Kembangkan Pertanian Sawah Organik

139 views
0

Butur, Radarsultra.co.id – Pemerintah Kabupaten Buton Utara (Butur) kembali menuai hasil dari pengembangan pertanian padi organik yang menjadi salah satu program unggulan Bupati Buton Utara, Drs. H. Abu Hasan, M.Pd.

Kali ini, Pemda Butur memanen kurang lebih dua hektar padi lokal organik jenis Wangkariri di desa Waculaea, Kecamatan Kulisusu, Kabupaten Buton Utara.

Kepala Dinas (Kadis) Pertanian Kabupaten Buton Utara, Sahrul Akri, S.P., M.Si mengatakan, selama kurang lebih empat tahun masa kepemimpinan Bupati Abu Hasan, Pemda Butur sudah mengembangkan pertanian organik di lahan seluas 1.647 hektar.

Klau seandainya kita uangkan ini dengan perhitungan 2,5 juta per hektar itu sudah mencapai 4 miliar seratus tujuh belas juta lima ratus ribu rupiah sejak 4 (empat) tahun Buton Utara mengembangkan pertanian organik ini,” kata kadis Sahrul Akri yang ditemui di lokasi panen raya padi organik, Sabtu, (8/08/2020).

Sahrul mengatakan, di masa kepemimpinan Bupati Abu Hasan, pihaknya terus berkomitmen mengembangkan pertanian padi organik, Bahkan kedepan pihaknya akan meningkatkan bantuan untuk membantu para petani dalam mengembangkan pertanian padi organik.

Meski demikian, Sahrul mengungkapkan produksi padi organik Butur masih sangat rendah, namun hal tersebut akan menjadi tantangan bagi Dinas Pertanian Butur untuk dapat meningjatkan produktivitas padi organik kedepannya.

Produksinya memang masih sangat rendah tapi ini tantangan bagi kita dinas pertanian untuk kedepan kita harus mengembangkan padi organik ini dengan meningkatkan produktivitas nya. Kita targetkan sampai dua ton per hektar, untuk produktivitas nya kita targetkan dari 1,5 menjadi 2 ton per hektar,” jelasnya.

“Target kita sebenarnya setiap tahun itu 500 hektar, tahun ini kita capai 500 hektar hanya tahun kemarin kita tidak capai, itu hanya 247 hektar,” sambungnya.

Sahrul mengungkapkan, ada beberapa tantangan yang dihadapi Dinas Pertanian dalam mengembangkan pertanian padi organik ini, diantaranya kegiatan penentuan Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) dan beberapa lokasi pertanian yang memasuki kawasan hutan lindung.

Kendalanya karena yang pertama terlambat dilakukan CPCL sehingga petani sudah ada yang panen baru mereka CPCL, jadi yang terlambat menanam itu yang dikasi bantuan, kemudian juga ada beberapa desa itu masuk di kawasan seperti di Torombia, kemudian Lamoahi itu masuk di kawasa hutan lindung sehingga kita tidak berani memberikan bantuan,” ungkapnya.

“Jadi ini juga harus kita berikan pembelajaran bagi petani kita kalau di kawasan jangan coba-coba mereka masuk karena kita tidak berani untuk mengintervensi dengan bantuan pemerintah,” lanjutnya.

Tidak hanya mengembangkan padi organik di ladang, kedepan, Dinas Pertanian Butur akan mengembangkan pertanian padi organik di lahan sawah yang dinilai lebih mudah pembinaannya dibandingkan pertanian padi organik di ladang yang sifatnya berpindah-pindah tempat.

Kalau ladang ini kan sifatnya berpindah-pindah,  jadi paling hanya dua kali kita tanam, tahun ketiga tidak lagi, jadi dia harus pindah lagi ke tempat lain. Jadi itu susahnya kita melakukan sertifikasi, jadi setiap tahun harus kita melakukan sertifikasi lagi. Sertifikasi lahannya sertifikasi petaninya pada lahan yang baru, akhirnya ini akan menjadi beban pemerintah, karena harus ada sertifikasi kemudian ICS nya,” jelasnya.

Menurut, Sahrul, pertanian padi di lahan sawah yang sifatnya tetap dapat mengurangi beban pengurusan sertifikasi, selain itu juga memudahkan pemerintah untuk melakukan pembinaan terkait pertanian padi organik.

Itu kelebihannya kalau di lahan sawah dan kita lebih mudah melakukan pembinaan-pembinaan tentang pertanian organik ini, dan saya kira di tahun ini yang mengembangkan pertanian organik total itu di desa Dampala jaya, mereka sudah tidak menggunakan pupuk,” tutupnya.