Mengintip Potret Indonesia di Ulang Tahun ke 77

Mengintip Potret Indonesia di Ulang Tahun ke 77

0

Opini, Radarsultra.co.id – 77 tahun bukan lagi usia yang terbilang muda jika itu usia manusia, bahkan bisa dibilang usia senja. Tapi bagaimana kalua itu usia sebuah negara.

Tidak lama lagi Indonesia akan berusia genap 77 tahun pada 17 Agustus 2022, bagaimana kondisi Indonesia saat ini?

Setelah 2 tahun diterpa badai pandemi Covid19, sekarang Indonesia mulai bangkit dari kondisi yang hampir melumpuhkan ekonomi dan berbagai sektor lainnya.

Perhatian semua pihak saat itu hanya terkonsentrasi kepada bintang utama “Covid19”. Kesedihan, kerja keras tanpa pamrih tenaga kesehatan dan berbagai upaya pemerintah bahu membahu dengan semua lapisan masyarakat pada saat itu telah memberikan titik terang.

Pandemi covid19 mulai bisa diatasi meskipun kita masih tidak boleh lengah dengan situasi new normal yang telah berlaku di Indonesia, tetap harus menjaga protokol kesehatan dalam segala kegiatan.

Setelah pandemi mereda, Indonesia di triwulan kedua dihadapkan pada sejumlah tekanan ekonomi terutama inflasi. Inflasi dibeberapa negara yang memiliki hubungan dengan Indonesia mengalami peningkatan, sebut saja Uni Eropa inflasi 9,6 persen, Tiongkok inflasi 2,5 persen.

Di Indonesia sendiri inflasi mencapai 0,64 persen di Juli 2022 dan dari tahun ke tahun nya mencapai  4,94 persen. Angka ini sudah melampaui target infllasi yang ditetapkan Bank Indonesia yaitu 4,5 persen sehingga perlu dilakukan antisipasi terjadinya inflasi tinggi di 5 bulan berikutnya.

Upaya tersebut dimaksudkan agar inflasi tahun 2022 tidak semakin menjauh dari target inflasi. Meskipun inflasi inti terjaga di angka 0,28 persen. Inflasi yang terjadi menunjukkan adanya pergerakan perekonomian dan mulai meningkatnya daya beli masyarakat.

Dengan adanya THR dari pemerintah bagi ASN dan dibukanya kran mudik lebaran tahun ini menyebabkan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Selama Januari–Juni 2022, jumlah penumpang domestik sebanyak 24,6 juta orang dan jumlah penumpang internasional sebanyak 1,7 juta orang, masing-masing naik sebesar 57,59 persen dan 540,90 persen dibanding kondisi pada periode yang sama tahun 2021.

Menggeliatnya perkonomian saat ini mendorong ekonomi tumbuh 5,44 persen dari tahun ke tahun dan didukung oleh kenaikan hampir semua lapangan usaha.

Sementara dari sisi pengeluaran, komponen  ekspor  barang  dan  jasa  mengalami  pertumbuhan  tertinggi  sebesar  19,74 persen. Pemerintah perlu menjaga kinerja ekspor agar perekonomian bisa tetap tumbuh ke depannya.

Ekonomi yang tumbuh seyogyanya dapat dinikmati secara merata oleh semua lapisan masyarakat, tidak hanya sekelompok orang saja.

Untuk melihat ketimpangan pengeluaran  penduduk  Indonesia  yang diukur menggunakan Gini Ratio, yang pada Maret 2022 mencapai 0,384 persen, angka ini meningkat dibandingkan angka September 2021. Apa artinya?

Artinya saat Maret 2022 ketimpangan pendapatan semakin tinggi. Beberapa upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengurangi ketimpangan tersebut yaitu menurunkan angka stunting dengan peningkatan kualitas pelayanan dasar publik, menurunkan kemiskinan dengan menjaga stabilitas pangan, mengurangi beban masyarakat miskin salah satunya memberikan bantuan sosial tepat sasaran, memberikan peluang pekerjaan melalui peningkatan keahlian/skill tenaga kerja, melakukan investasi berbasis padat karya, menurunkan ketimpangan kekayaan melalui pengaturan pajak dan bantuan UMKM, serta menguatkan industri berbasis rakyat melalui upaya penguatan industri kecil strategis dan pengembangan destinasi wisata.

Hasil penelitian memperlihatkan adanya hubungan yang ajeg dan positif antara derajat pendidikan dengan kehidupan ekonomi, dalam arti makin tinggi derajat pendidikan makin tinggi pula derajat kehidupan ekonomi.

Meskipun demikian, tidak jelas faktor mana yang muncul lebih dulu, apakah perkembangan pendidikan yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi ataukah sebaliknya.

Terhadap permasalahan ini ternyata banyak bukti yang menunjukkan bahwa antara keduanya terdapat hubungan saling mempengaruhi, yaitu bahwa pertumbuhan pendidikan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi mempengaruhi petumbuhan pendidikan (Bowles dan Gintis 1976, Adiwikarta 1988, Saripudin 2005).

Perkonomian Indonesia tumbuh tahun 2022, bagaimana dengan Pendidikan? Menurut data Susenas tahun 2021 tingkat penyelesaian pendidikan SMA di Indonesia sebesar 65,94 persen, angka ini mengalami peningkatan jika dibandingkan tahun 2020 yang hanya 63,95 persen.

Indikator lain yang bisa melihat keberhasilan pendidikan dan perubahannya adalah rata-rata lama sekolah dan angka harapan laam sekolah, keduanya merupakan pembentuk angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Rata-rata Lama Sekolah – RLS (Mean Years of Schooling – MYS) adalah jumlah tahun yang digunakan oleh penduduk dalam menjalani pendidikan formal untuk penduduk berusia 25 tahun ke atas.

Tahun 2021 nilainya sebesar 8,54 persen artinya rata-rata penduduk Indonesia menamatkan Pendidikan di usia 8 tahun atau setingkat SD. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2020 sebesar 8,48 persen.

Sedang angka harapan lama sekolah – HLS (Expected Years of Schooling – EYS) adalah lamanya sekolah (dalam tahun) yang diharapkan akan dirasakan oleh anak pada umur tertentu di masa mendatang.

Untuk penduduk berusia 7 tahun ke atas, HLS dapat digunakan untuk mengetahui kondisi pembangunan sistem pendidikan di berbagai jenjang yang ditunjukkan dalam bentuk lamanya pendidikan (dalam tahun) yang diharapkan dapat dicapai oleh setiap anak.

Tahun 2021 nilainya sebesar 13,08 persen artinya secacra rata-rata anak usia 7 tahun yang masuk jenjang Pendidikan formalpada tahun 2021 memiliki peluang bersekolah selama 13,08 tahun atau setara Diploma II. Angka ini lebih tinggi jika dibandingkan tahun 2020 sebsar 12,98 persen.

Pada tahun 2015 dari 38 negara di dunia IPM Indonesia 70,1 persen menduduki peringkat 32. Ini juga maish merupakan PR pemerintah melakukan perbaikan baik di segi Pendidikan, kesehatan maupun pemerataan pendapatan.

Terkait dengan upaya kedua menurunkan kemiskinan, pada Maret 2022 kemiskinan turun menjadi 9,54 persen menurun 0,17 persen poin dibandingkan September 2021. Angka ini mendekati target pemerintah di tahun 2022 yaitu kemiskinan dibawah 10 persen.

Namun pemerintah masih memiliki PR besar dalam pengentasan kemiskinan. Secara rata-rata rumah tangga miskin memiliki 4,74 anggota rumah tangga dan pengeluaran rata-rata sebesar 2,395 juta rupiah per bulan.

Fakta mengejutkan bahwa sumbangan garis kemiskinan selain beras, rokon kretek filter menduduki urutan kedua terbesar diikuti komoditas makanan dan non makanan lainnya.

Selain kemiskinan yang biasa menjadi pembahasan, ada juga kemiskinan ekstrem yang menurut TNP2K tahun ini akan menggarap 212 kabupaten/kota untuk pengentasannya.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah pertama, melalui bantuan sosial dan subsidi yaitu kelompok program/kegiatan dalam rangka mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin ekstrem seperti BLT Desa, pemberian bantuan juga diberikan pada program Kartu Sembako.
Bantuan tersebut akan diberikan sebesar Rp 300.000 selama 3 bulan untuk 1,4 juta KPM (Keluarga Penerima Manfaat).

Kedua, melalui pemberdayaan masyarakat dalam rangka peningkatan pendapatan masyarakat miskin ekstrem dan ketiga, pembangunan infrastruktur pelayanan dasar dalam rangka penurunan jumlah kantong-kantong kemiskinan. Target pemerintah adalah zero kemiskinan ekstrem di tahun 2024.

Selain potret perekonomian dan kemiskinan, untuk menyongsong Pemilu serentak 2024 kita perlu  mengintip bagaimana kondisi politik Indonesia.

Angka yang dirilis BPS tentang Indeks Demokrasi Indonesia tahun 2019 mencapai angka 74,92 persen. Angka ini dipengaruhi  kenaikan  aspek  hak-hak politik sebesar 4,92 poin (dari 65,79 menjadi 70,71), dan peningkatan aspek Lembaga Demokrasi sebesar 3,48 poin (dari 75,25 menjadi 78,73).

Jika dilihat lebih mendalam maka pada periode 2018–2019, 3 (tiga) variabel dengan peningkatan terbesar terjadi pada variabel Peran Birokrasi Pemerintah Daerah yang meningkat 6,84  poin,  variabel  Hak  Memilih  dan  Dipilih  naik  3,50  poin,  serta  variabel  Peran Peradilan yang Independen naik 2,94 poin.

Sementara tiga variabel yang mengalami penurunan terbesar adalah variabel Pemilu yang Bebas dan Adil yang menurun 9,73 poin, variabel Kebebasan Berkumpul  dan  Berserikat  turun  4,32  poin,  serta  variabel  Kebebasan  Berpendapat  turun  1,88 poin. 3 variabel yang mengalami penurunan perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah sehingga pada saatnya Indonesia siap melaksanakan Pemilu Serentak sesuai amanat Undang-Undang.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-77, “Pulih Lebih Cepat Bangkit Lebih Kuat”.  Bersama mari kita menyongsong masa depan Indonesia lebih baik.*

Oleh: Burit Retnowati, SST,
Penulis adalah Statistisi Ahli Muda BPS Provinsi Sulawesi Tenggara.

Your email address will not be published. Required fields are marked *