Kunjungan Menteri Susi di Wakatobi, ke Pasar Beli Ikan dan Kasuami
Keterangan Gambar : Kunjungan Mentri Susi di Wakatobi, ke Pasar Beli Ikan dan Kasuami

Kunjungan Menteri Susi di Wakatobi, ke Pasar Beli Ikan dan Kasuami

Editors choice
400 views
1

Wakatobi, Radarsultra.co.Id – Tidak hanya terkenal sebagai Mentri yang nyentrik, tapi Menteri yang satu ini juga sangat sosial dan ramah.

Inilah sosok Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Puji Astuti saat tiba di Kabupaten Wakatobi, Kamis (23/3/2017) pagi sekitar pukul 06.35 Wita.

Pas kapal telah sandar di pelabuhan Pangulubelo dengan menggunakan kano, perahu modern sejenis alat selancar ini dikawal ketat anggota angkatan laut dari KRI Terapang 648, Menteri Susi langsung menceburkan diri beberapa kali di laut sekitar pelabuhan tersebut.

Usai menerima penyambutan resmi dari pemerintah daerah dipimpin Bupati dan Wakil Bupati, H.Arhawi-Ilmiati Daud beserta seluruh jajaran Muspida Kabupaten Wakatobi langsung menuju pasar sentral Wangi-Wangi Selatan.

Tak tanggung-tanggung, Menteri yang dikenal tegas ini langsung mengarahkan stafnya memborong ikan dari beberapa penjual serta makanan tradisional, Kasuami dan beberapa bumbu masakan seperti cabai merah,tomat dan sayuran.

Para penjual di pasar itu terutama ibu-ibu meminta berpose bersama bahkan mereka berdialog terbuka menyampaikan keluhannya agar pasar sentral diperbaiki serta tempat sampahnya dipindahkan dari tempat semula yang dibangun dengan kontruksi beton berada di pinggir pasar tersebut.

“Tolong perbaiki pasar Pak, dan itu sampah-sampah jangan lagi dibuang ke laut,” ujar Menteri kepada Bupati Wakatobi,H.Arhawi dan beberapa penjual itu.

Puas berkeliling di pasar, Menteri bersama rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Mola, salah satu Desa berpenduduk nelayan dari suku Bajo.

Menteri era Jokowi-Jk ini pun melihat langsung kondisi desa tersebut. Hampir setiap langkahnya masyarakat Desa itu meminta salaman dan berfoto.

Di desa itu pula, beberapa nelayan dihimbau mendaftarkan diri sebagai peserta asuransi jiwa berupa kartu asuransi nelayan.

Dalam penjelasannya, pemilik asuransi untuk kecelakaan di laut bila meninggal dunia akan mendapat jaminan Rp 100 juta sementara yang cacat berhak pula menerima sebesar Rp 20 juta demikian juga jaminan pengobatan bagi nelayan yang sakit.

Tak berselang lama, Susi menunjukkan rasa pedulinya pada dua janda nelayan yang sudah tua renta lalu memberinya sejumlah uang.

Bahkan saat melihat seorang anak yang sakit serta seorang ibu yang menderita penyakit gondok di Desa itu langsung menyampaikan stafnya merekomendasikan berobat dengan membebaskan biaya pengobatan.

Keluhan yang sama ketika mengunjungi Desa Liya Bahari. Di desa itu para petani rumput laut atau masyarakat setempat menyebut kelompok petani rumput laut ini sebagai nelayan agar-agar, mengeluhkan harga jual rumput laut yang dibeli para tengkulak cukup rendah mulai maksimal harga diatas Rp 10 ribuan hingga turun dengan harga seribu rupiah per kilogram.

“Ini kedangkalan laut harus rata-rata dua meter sehingga agar-agar nya subur. Kalau mengenai harga tampung saja nanti kalau banyak hubungi kami, ada yang tangani itu supaya langsung dikonekkan harga langsung dari Jakarta. Kami bisa carikan pembeli asal jumlahnya banyak,” paparnya dihadapan La Ode Abdul Gaffar nelayan agar-agar tersebut.

Selain itu juga Susi meminta Bupati Wakatobi,H.Arhawi agar menutup penambangan pasir liar, yang mengancam abrasi pantai di Pulau-Pulau kecil, tempat warga desa itu menambang serta menggali pasir. Sehingga terjadi sejumlah kubangan setelah mendapat keluhan warga setempat bahwa Desa itu juga sebagai tempat tambang pasir.

“Pak Bupati, itu harus ditutup kalau tidak mau saya bawa tim dari pusat untuk menutupnya,” tandasnya​.

Sontak saja, Bupati yang setia menemaninya sepanjang perjalanan nya tersebut menjelaskan jika para penambang Desa itu membalelo. Kata dia, meski telah ada edaran Bupati sebelumnya tentang larangan penambangan liar namun tetap saja berulah.

Jika dilarang siang hari maka mereka pun (para penambang -red) menambangnya malam hari.

Hanya saja rupanya alasan Bupati tidak membuat percaya begitu saja sehingga ia melanjutkan permintaan agar pasir tak ada kecuali harus ditutup.

Meski terkesan meniadakan pekerjaan sebagaian masyarakat penambang Desa tersebut. Rupanya kehadiran Mentri, tidak membuat warga tersinggung.

Kehadiran Mentri ini tidak dilewatkan begitu saja. Para ibu-ibu terus menerus meminta berfoto hingga berkerumun di depan pintu mobil yang ditumpanginya, Navajero Sport dengan nomor plat RI. 40 itu.

Berbeda halnya ketika mengunjungi Balai Pusat Perekayasaan Kelautan. Di tempat tersebut, Susi Puji Astuti memantau langsung sistem radar dan tata cara penggunaannya bahkan menitipkan tulisan berisi pesan agar radar pemantau pergerakan kapal-kapal itu harus difungsikan mengingat ancaman kedaulatan RI serta keberlanjutan sumber daya laut dan perikanan dengan dibubuhi tanda tangan atas nama dirinya.

Pesan ini langsung diberikan kepada kepala BPPK atau LPTK Kabupaten Wakatobi, Akhmatul Ferlin.

Usai menyantap beberapa hidangan yang telah disiapkan rombongan Mentri ini langsung menuju Kampus Sekolah Tinggi Perikanan Wakatobi. Digedung itu, ia bersama rombongannya kembali dijamu makan siang oleh Bupati Wakatobi. (A)

About author