Keamanan Naskah UN Tidak Seketat Dulu, Ini Tanggapan Pakar Pendidikan Sultra
Keterangan Gambar :

Keamanan Naskah UN Tidak Seketat Dulu, Ini Tanggapan Pakar Pendidikan Sultra

81 views
0

Kendari, Radarsultra.co.id- Naskah Ujian Nasional kini tidak menjadi dokumen negara lagi, sehingga keamanan yang sebelumnya begitu ketat, sekarang tidak lagi.

Pakar Pendidikan Sultra Prof. Abdullah Al-Hadza menanggapi hal tersebut mengatakan itu tidak menjadi masalah bukan Ujian Nasional tidak menjadi penentu, cuman porsinya tidak sebesar dulu.

Pakar Pendidikan Sultra Prof. Abdullah Al- Hadzah menanggapi masalah kemanan naskah UN mengatakan bahwa tentang pengawasan UN yang dulunya keamanannya dalam pengawasan yang ketat dan sekarang tidak lagi tidak itu tidak menjadi masalah.

“Sebenarnya mestinya memang tidak perlu melibatkan yang lain, kalau melibatkan yang lain terkesan bahwa UN hampir sama dengan hubungan interaksi antar warga negara dan aparat.

Sehingga menimbulkan kesan bahwa UN bisa menimbulkan sesuatu yang pidana.

Sehingga UN seolah-olah dicitrakan posisinya siswa sebagai calon-calon kriminal dan itulah yang membuat ketakutan bagi anak-anak,” ungkap pakar pendidikan Sultra Prof. Abdullah Al- Hadzah Kamis (13/4/2017).

Mengenai perbedaan jadwal ujian tahun ini memang ada perubahan, tidak serentak karena diharapkan nanti kita akan menuju sistem UNBK sehingga pada saatnya nanti bisa seluruhnya.

Maka ketika itu terjadi mau tidak mau dorongan bagi siswa untuk belajar secara optimal serta guru mengajar secara lebih fektif, sehingga lebih terpacu.

“Saya yakin nanti di khayalak umum atau pasar nasional di dalam menerima pekerja akan memilih tanda lulus dan juga hasil ujian nasional, sehingga banyak yang mengatakan UN hanya pemetaan sekarang. Tetapi di dunia kerja itu yang akan menjadi penilaian atau penentu kelulusan kerja,” katanya.

Sementara itu, mengenai masalah lulus atau tidak lulus siswa/siswi itu tidak menjadi masalah.

Sebab di dalam ujian memang ada yang berhasil dan tidak.

“Yang malas dengan yang bodoh itu boleh harus sama, sebab kalau tidak ada perbedaan mending tidak usah ada ujian. Cuman memang sedapat mungkin jumlah yang lulus lebih besar ketimbang yang tidak lulus, karena itu merupakan tanda bahwa itu proses mengajar berjalan dengan baik. Yang wajar-wajar saja secara akademikm itu yang kami inginkan,” tutupnya.(B)

About author