Ini Tatacara Pembuatan Parang Dari Empu Binongko
Keterangan Gambar :

Ini Tatacara Pembuatan Parang Dari Empu Binongko

885 views
0

Wakatobi, Radarsultra.Co.Id – Kabupaten Wakatobi memiliki keunikan tersendiri. Dari empat kepulauan,mulai dari pulau yang ada memiliki kekhasan masing-masing salah satunya Pulau Binongko.

Pulau yang dipercaya kerajaan Buton sejak ratusan tahun lalu ini pada awalnya dikenal dengan kepulauan tukang besi.Sebuah identitas ini lahir dari peradaban masyarakat setempat yang khas atas keahlian mereka membuat senjata berupa parang atau keris.

Keberadaan empu atau pandai besi yang terampil membuat senjata dari besi di di Pulau itu dengan ke Khasan berupa “parang Binongko” telah berlangsung sejak abad ke-17 silam.

Keterampilan membuat parang ini diwariskan turun-temurun sehingga pembuatan parang secara tradisional masih dijumpai hingga saat ini.

Namun tidak semua prosesi pemakaman senjata secara tradisional dapat diwariskan misalnya pembuatan keris dengan jari tangan atau ritual senjata senjata sakti yang disebut ujungi.

Uniknya Wakatobi sendiri bukanlah daerah penghasil biji besi meskipun besi adalah bahan utama pembuatan parang di Binongko.Hal ini di indikasi kan bahwa Perdagangan antar pulau telah dimulai sejak lama yang bahan bakunya semua didatangkan dari Pulau Jawa.

Prosesi lengkap pembuatan parang Binongko terdiri atas beberapa tahapan dimana setiap tahapan mengandung makna filosofi tersendiri. Filosofi tersebut merupakan kearifan lokal dan telah ada sejak awal peradaban berkembang di Wakatobi. Tahapan pembuatan parang Binongko dikenal diantaranya ;

1.Tila dan Tihi

Besi dibakar pada tungku yang bahan bakarnya dari arang dengan bantuan energi angin yang berasal dari pompa yang dikenal dengan nama Busoa. Dilakukan oleh seorang tukang buso.Peran ini biasanya dilakukan oleh seorang istri . Keterlibatan istri disini merupakan cerminan keharmonisan rumah tangga dan saling melengkapi. Dalam 15 menit bahan besi akan mencapai tingkat panas pada suhu tertentu dimana besi akan berubah warna kemerah-merahan yang merupakan pertanda besi sudah siap ditempa.Selanjutnya besi dikeluarkan dari tunggu untuk dipotong atau dibelah sesuai ukuran yang diinginkan.

2.Kepa’a

Besi yang sudah dipotong atau dibelah dimasukkan kembali kedalam tungku untuk dipanaskan seperti pada tahap pertama.Pada tahap ini besi mulai ditempa untuk mendapatkan ketebalan yang sesuai dan memulai pembentukan model. Tahapan ini biasanya dilakukan oleh dua orang pandai besi yang dikenal dengan istilah”Podhandu”. Podhandu ini adalah simbol kekompakan antara dua penempa yang harus bekerjasama untuk berpacu dengan besi panas yang mulai mendingin dan akan segera mengeras. Suara palu,besi yang ditempa dan besi landasan menghasilkan irama khas yang membuat mereka lebih semangat sehingga melupakan panasnya api dan besi.

3.Hokomonde

Besi yang sudah dibentuk Kemudian dipanaskan kembali, lalu ditempa untuk mendapatkan kekerasan besi yang maksimal serta bentuk parang yang sempurna. Hokomonde dilakukan oleh seorang pandai besi untuk menyempurnakan tekstur parang.Parang harus bertekstur rata demikian pula bagian yang dipertajam disebut A’a sampai tempat gagang yang disebut Uti.

4.Khuba.

Pada tahap ini parang akan dihaluskan dengan menggunakan parang khususnya yang kekerasan nya melebihi lainnya. Parang yang sudah dihaluskan akan dipanaskan Kembali untuk disepuh agar kualitas terjaga. Proses ini adalah penentu kualitas parang, karena semakin lama parang ditempa semakin bagus tingkat kekerasannya, dalam istilah pandai besi disebut “motika”.Konon parang yang melalui proses Motika ini mampu memotong benda yang sangat keras, contoh besi.

5.Hulu

Tahap akhir,Hulu. hulu atau pembuatan gagang parang dipasang dan bila parang di asah sampai tajam dan siap dipergunakan.

Proses panjang dan rumit Pembuatan parang ini membuat jiwa jiwa yang sabar bagi pandai tukang besi pembuatnya. Mata rantai tersebut menumbuhkan kreatifitas masyarakat dan menghasilkan pelaku usaha penduduknya seperti pemasok bahan baku besi, pembuat arang pembuat gagang dan pedagang parang.

Sekitar 40 % pelaku ekonomi pulau Binongko telah menggantungkan hidupnya pandai besi.

Prosesi pembuatan parang mengandung filosofi dimana parang yang dibuat haruslah dipergunakan untuk hal-hal yang baik bukan saling menyakiti.Filosofi ini dipertegas dengan sumpah para tetuah adat yang berbunyi.

“Araukobhue na hansu’u akoo tejumaga teurungu’u tetuha’u, tekampo’u Kade ako temansuru te bajau, tetuha’u tekampo’u.Arakomisilalamo temia maka komentaimo dhuka tesilalano”.

Sumpah tersebut mempunyai arti bahwa apabila senjata/keris sudah terlepas dari sarungnya maka hendaknya digunakan untuk keselamatan diri, keluarga dan masyarakat umum dan bukan untuk menghancurkan dirimu, kelurga mu dan orang lain.Tetapi jika engkau telah menyakiti orang lain maka tinggal menunggu saat nya untuk menyakiti.(C)

About author