Ini Penjelasan GTC-19 Butur Soal Publikas Data Covid-19
Keterangan Gambar : Juru Bicaranya (Jubir GTC-19 Butur), dr. Ali Badar

Ini Penjelasan GTC-19 Butur Soal Publikas Data Covid-19

482 views
0

Butur, Radarsultra.co.id – Penyampaian informasi sebaran data Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Kabupaten Buton Utara yang dinilai tidak transparan oleh nggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Buton Utara (Butur), Nasri ditanggapi oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTC-19) Kabupaten Buton Utara (Butur).

GTC-19 Butur melalui Juru Bicaranya (Jubir GTC-19 Butur), dr. Ali Badar mengungkapkan seluruh data yang diinput oleh GTC-19 sudah sesuai prosedur (SOP) penanganan Covid-19, melalui jalur survalence puskesmas kemudian rekap akhir data oleh survailance Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten.

Rekap akhir data di laporkan ke Jubir untuk di sampaikan ke publik. untuk penentuan status pelaku perjalanan, OTG, ODP, PDP hingga pasien terkonfirmasi positif covid 19 adalah tupoksi dari tenaga kesehatan. Data ini juga yang dilaporkan ke pusat. untuk satgas desa, satgas kelurahan, dan satgas lainnya non medis hanya mendata semua orang yg masuk di wilayah kerjanya dan koordinasi dgn data puskesmas untuk penyesuaian,” kata dr. Ali Badar, Rabu, (29/04/2020).

dr. Ali mengatakan, dalam menyampaikan informasi terkait Covid-19, GTC-19 Butur selalu berpatokan pada Standar Operasional Prosedur (SOP) terkait protokol penyampaian informasi ke publik.

Ia menjelaskan, yang disampaikan ke publik untuk lingkup daerah adalah jumlah dan Sebaran kasus (OTG, ODP, PDP), jumlah dan sebaran yang di nyatakan sehat, jumlah dan sebaran spesimen yang di ambil khusus, dan hasil laboratorium terhadap spesimen khusus tersebut.

“Sedangkan data dan identitas pasien tidak disebarkan ke publik,” jelasnya

Selain itu, Deteksi cepat melalui pintu masuk perbatasan wilayah juga sudah dilakukan oleh GTC-19 Butur yang dilanjutkan dengan pendataan dan pemetaan dengan menentukan klaster setiap orang yang masuk ke wilayah serta pemeriksaan suhu tubuh yang dilanjutkan dengan respon di tiap-tiap puskesmas.

“Kita lakukan pemantauan di rumah dan follow up klinis oleh petugas kesehatan. Jika dengan kluster orang-orang yang beresiko, kita lanjutkan dengan Rapid Tes. Contoh diantaranya adalah penumpang kapal lambelu dan pasien kebidanan yang melahirkan di Palagimata dari klaster yang kita tentukan pada orang-orang yang beresiko terpapar kita rapid, dan hasilnya semua negatif,” ungkapnya

Untuk penggunaan Alat Pengaman Diri (APD), dr. Ali menerangkan, petugas kesehatan sudah sesuai level atau standar penggunaan, dimana APD lengkap hanya digunakan untuk merujuk pasien yang dicurigai terpapar Covid-19 dan digunakan oleh petugas ruang isolasi.

“Kami sudah pesan sejak 10 hari lalu untuk Baju Hazmat dan face shield guna menghindari paparan resiko. tapi barangnya tertahan di Bandara Makassar sejak pembatasan penerbangan. Mestinya tanggal 23 lalu sudah tiba logistik. termaksud pesanan Rapid Tes, masih menunggu persetujuan Kemenkes. Tapi kami sudah mengajukan permintaan pembelanjaan di penyedia resmi,” terangnya.

“Pada akhirnya, marilah kita bekerja dan menilai sesuai kewenangan dan kompentensi kita masing-masing. Berharap agar kita saling mengingatkan, menguatkan dan mendoakan. Masalah Corona adalah masalah kita bersama. Semoga adanya keberadaan kita memberi solusi. Sehingga tahap pencegahan kita maksimal di lapangan,” tutupnya.