Empat Trend Kejahatan di Sultra Menurun di 2019
Keterangan Gambar : Kapolda Sultra, Brigjend Pol. Merdisyam

Empat Trend Kejahatan di Sultra Menurun di 2019

50 views
0

Kendari, Radarsultra.co.id – Empat trend kejahatan di wilayah hukum Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Tenggara (Sultra) yakni kejahatan konvensional, kejahatan transnasional, kejahatan kekayaan negara, kejahatan berimplikasi kontijensi dan lain-lainnya mengalami penurunan di tahun 2019.

Hal tersebut dipaparkan oleh Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sultra, Brigjend Pol. Merdisyam dalam rilis akhir tahun 2019 di Aula Dhacara Mapolda Sultra, Selasa, (31/12/2019).

Kapolda mengatakan, di tahun 2019 secara keseluruhan trend kejahatan di Sultra mengalami penurunan sebanyak 678 kasus atau 13,7% bila dibanding tahun 2019.

Bahwa kejahatan konvensional, kejahatan trans nasional dan kejahatan terhadap kekayaan nasional setra kejahatan berimplikasi kontijensi dan lain-lainnya ini secara total sebanyak 4.936 dengan tingkat penyelesaian sebanyak 3.634, dan ini  terjadi penurunan menjadi 4.258 dan 2.777 penyelesaian,” kata Kapolda.

Terkait dengan kejahatan Konvensional, Kapolda menjelaskan bahwa pada tahun 2019 mengalami penurunan sebanyak 1.152 kasus atau sebanyak 28,5% dibandingkan dengan tahun 2018 dimana kejahatan ini dominan dilakukan oleh penjahat jalanan.

Sedangkan untuk penyelesaian kasus kejahatan konvensional pada tahun 2019 ini mengalami penurunan sebanyak 36,3% dibandingkan 2018 menjadi 1.333 kasus.

“Namun secara umum kinerja penyidik dalam penyelesaian kejahatan konvensional pada tahun 2019 ini mengalami peningkatan sebanyak 7,08%,” ungkapnya.

Dari keseluruhan jenis kejahatan konvensional, Kapolda mengatakan penganiayaan biasa dan pencurian menempati posisi pertama dan kedua yang disusul pengeroyokan, penipuan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), penggelapan, pengancaman, Pencurian dengan pemberatan (Curat), dan pengrusakan.

Artinya kita melihat bahwa masyarakat masih sangat dipengaruhi dengan kejadian-kejadian atau tindakan-tindakan yang akibat efek dari penganiayaan biasa dan pencurian biasa itu dari tuntutan-tuntutan ekonomi, yang dibutuhkan oleh masyarakat,” jelasnya.

Lebih lanjut, Kapolda memaparkan, erkait dengan kejahatan transnasional bahwa pada tahun 2019 mengalami penurunan sebesar 342 kasus atau 54,5% dan penyelesaian perkaranya juga mengalami penurunan sebanyak 309 kasus atau 57,5%, namun secara umum, Kapolda menjelaskan bahwa kinerja penegakan hukum terhadap kejahatan transnasional pada tahun 2019 meningkat sebanyak 5,6%.

“Kejahatan transnasional yang dominan pada 2019 yaitu penyalahgunaan narkoba sebanyak 235 kasus atau 82%. Angka ini cenderung menurun bila dibanding pada tahun 2018,” lanjutnya.

Khusus untuk kejahatan narkoba, pada tahun 2019 mengalami penurunan sebanyak 55 perkara, sedangkan penangkapan tersangka sebanyak 202 kasus yang didominasi oleh usia 21-29 tahun.

Kemudian penyitaan barang bukti khususnya narkotika golongan 1 (satu) jenis sabu-sabu mengalami peningkatan yang sangat signifikan yaitu sebanyak 639% atau 19.600 Kg bila dibandingkan dengan tahun 2018.

Ini tentunya akan menjadi warning terutama di lingkungan masyarakat dan pemuda. Penyitaan barang bukti jenis ekstasi, Mushroom dan obat daftar G ini berhasil diungkap di 2019. Memang kita lihat terjadi peningkatan dan ini sebenarnya salah satu peningkatan kinerja dari direktorat narkoba Polda Sultra,” tukasnya.

Meskipun mengalami peningkatan drastis, pengungkapan yang dilakukan oleh Polda Sultra juga bisa mengimbangi situasi perkembangan di lapangan.

Kita ketahui dibandingkan dengan tahun 2018 memang terjadi peningkatan yang luar biasa dan pengungkapan, tetapi pengungkapan inipun menandakan bahwa daerah kita bukan lagi hanya sekedar dipakai sebagai daerah transit tetapi juga sebagai daerah kontributor penyebaran narkoba ini khususnya dikalangan remaja dan anak sekolah,” jelasnya.

Kemudian terkait dengan kejahatan kekayaan negara pada tahun 2019 terdapat 33 kasus tindak pidana korupsi dengan penyelesaian sebanyak 23 kasus atau 69,69% sisanya masih dalam proses lidik dan sidik,” lanjutnya.