Dua Bulan Pasca Pelaporan, AM2WB Pertanyakan Tindak Lanjut Kasus Penyaderaan Warga di Konkep
Keterangan Gambar :

Dua Bulan Pasca Pelaporan, AM2WB Pertanyakan Tindak Lanjut Kasus Penyaderaan Warga di Konkep

85 views
0

Kendari, Radarsultra.co.id – Kasus Penyaderaan yang diduga melawan hukum yang sempat terjadi di desa Roko-roko, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep) Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 23 Agustus 2019 lalu sempat heboh dan menjadi perbincangan warga.

Warga Roko-roko Raya yang juga karyawan PT. Gema Kreasi Perdana (GKP)

Kejadian yang dialami oleh kurang lebih 10 (sepuluh) warga Roko-roko Raya yang juga karyawan PT. Gema Kreasi Perdana (GKP) ini telah dilaporkan oleh pihak perusahaan pada Agustus 2019 lalu.

Kurang lebih dua bulan pasca dilaporkan, kasus itu kembali dipertanyakan oleh warga Konkep yang juga kerabat dan keluarga korban yang merasa telah dirugikan dan dipermalukan akibat tindakan arogansi oknum penyadera.

Pada Rabu 6 November 2019 lalu, puluhan warga dan kerabat korban yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Masyarakat Wawonii Bersatu (AM2WB) berbondong-bondong mendatangi Mapolda Sultra. Kedatangan mereka bermaksud untuk menanyakan perkembangan kasus penyanderaan disertai tidak kekerasan yang dilakukan oleh oknum warga yang terlibat dalam konflik sengketa lahan oleh Warga dan pihak perusahaan.

Amir Karim selaku Perwakilan aliansi saat ditemui oleh awak media mengatakan, kasus penyandraan yang disertai tindak kekerasan ini telah lama mereka laporkan namun hingga kini para tersangka belum juga tertangkap.

“Kami ingin adanya kepastian hukum,” kata Amir, Sabtu, (09/11/2019)

Kendati demikian, ia meyakini aparat kepolisian akan bekerja secara maksimal untuk mengungkap kasus penyanderaan yang disertai kekerasan itu.

“Ini negara hukum kita tunggu saja kinerja dari aparat kepolisian apalagi waktu rapat diaula Ditreskrimum, Wadir Krimum juga sempat mengatakan dalam waktu dekat ini akan melakukan upaya yang maksimal,” lanjutnya.

Sedikit menyinggung penyaderaan, Amir mengatakan tindakan yang dialami oleh 10 korban tersandera ini adalah tindakan yang tidak berperikemanusiaan.

“Kehadiran kami di Polda guna memastikan sejauh mana penanganan kasus tersebut. sebab, tindakan yang dialami 10 warga ini sungguh tidak berprikemanusiaan sebab mereka di perlakukan layaknya maling diikat di pukuli serta ditendang bahkan di caci,” katanya.

“Untuk sekedar buang air kecil saja tidak diizinkan, ini sungguh melampaui batas,” tukasnya.