Diduga Meninggal Karena Tembakan, Jenazah Korban Aksi UNRAS Tolak RUU KUHP di Sultra Akan Diotopsi
Keterangan Gambar :

Diduga Meninggal Karena Tembakan, Jenazah Korban Aksi UNRAS Tolak RUU KUHP di Sultra Akan Diotopsi

135 views
2

Kendari, Radarsultra.co.id – Aksi Unjuk rasa (Unras) penolakan RUU KUHP yang berlangsung di depan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Kamis pagi hingga menjelang Maghrib, 26 September 2019 berkabung duka setelah salah satu pengunjuk rasa dari Universitas Halu Oleo (UHO) atas nama Randi dinyatakan meninggal dunia akibat hantaman benda yang diduga peluru tepat di bagian dada sebelah kanannya.

Randi kemudian dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Ismoyo Korem 143 Haluoleo pada pukul 15.15 WITA dan sempat menjalani perawatan medis selama kurang lebih 15 menit hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada pukul 15.45 WITA.

Mengenai dugaan peluru yang bersarang di dada korban, pihak kepolisian melalui Kabid Humas Polda Sultra, AKBP. Harry Goldenhardt mengungkapkan akan melakukan otopsi terhadap jenazah korban untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian korban. Menurut AKBP. Harry, persetujuan otopsi sudah didapatkan dari pihak keluarga korban.

“Diduga karena luka tembakan. Saat ini, korban sudah dibawa dari RS Korem, ke RS Abunawas. Dan akan dilakukan otopsi. Otopsi akan dilakukan oleh tiga tim dokter dari RS Abunawas, tim dokter dari RS korem, dan tim dokter dari RS Bhayangkara.
Kita tunggu hasilnya,” Kata AKBP. Harry Goldenhardt saat ditemui di lokasi unjuk rasa yang sudah meredah, Kamis, (26/09/2019).

Sementara itu, Kepala RS Ismoyo Korem 143 Haluoleo, dr. Arif meyakini bahwa luka di dada korban adalah luka tembakan. Meskipun demikian, pihaknya belum bisa memastikan apakah itu peluru karet atau peluru tajam.

“Dia datang sudah dengan kondisi yang buruk dengan luka terbuka di sebelah kanan sekitar 5 cm dengan kedalaman sekitar 10 cm. Belum bisa dipastikan luka itu akibat apa, yang jelasnya benda tajam, luka tembak, saya belum tau peluru tajam atau peluru karet karena saya belum liat barangnya,” ungkap Arif.

Menanggapi kejadian tersebut, Kabid Humas Polda Sultra, AKBP. Harry menegaskan bahwa personil yang melakukan pengamanan tidak dilengkapi atau diberi senjata peluru tajam ataupun peluru karet.

“Personil yang melakukan pengamanan tidak dilengkapi atau tidak diberi peluru tajam. Dan sebelum personil bergerak ke lokasi DPRD kami sudah melakukan pemeriksaan pasukan. Setiap personil kami cek satu per satu apakah mereka sesuai SOP kegiatan pengamanan. Dan sudah kami lakukan pengecekan, tidak satupun dari personel kami yang membekali diri dengan peluru tajam atau pun dengan peluru karet,” jelas AKBP. Harry.

Akibat peristiwa berdarah ini, 15 orang mengalami luka-luka diantaranya 11 orang mahasiswa, 3 (tiga) orang dari personel Polri  dan 1 (satu) orang dari staff kantor DPRD.

“Ada beberapa korban sebanyak 15 korban yang saat ini sedang mendapat perawatan. Saat ini sedang mendapatkan perawatan di beberapa RS termasuk di RS Bhayangkara dan RS bahteramas. Saat ini, mereka sehat. Mereka hanya mengalami luka di beberapa bagian tubuh saja, karena lemparan. Kondisi terakhir, saat ini sampai pukul 18.05 wib situasi sudah sangat terkendali,  cukup kondusif, masyarakat sudah bisa beraktivitas kembali,” pungkasnya.