Buntut Panjang Penembakan Warga Tue-tue, Pihak Kepolisian Dituding Lakukan Intimidasi
Keterangan Gambar :

Buntut Panjang Penembakan Warga Tue-tue, Pihak Kepolisian Dituding Lakukan Intimidasi

0

Kendari, Radarsultra.co.id – Insiden penembakan warga Tue-tue yang terjadi pada 14 Januari 2018 lalu, kini harus berbuntut panjang setelah menuai banyak kritikan dari berbagai pihak.

Foto : Emil Rusmawansyah/Radarsultra.co.id

Aksi penembakan tersebut dinilai sebagai salah satu langkah yang tidak tepat oleh pihak Kepolisian dalam melakukan tugas pengamanan.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa (MPM), La Ode Inta yang tergabung dalam aksi demo Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) Universitas Halu Oleo (UHO) di depan Mapolda Sultra, Senin, 22 Januari 2018.

Menurutnya, keputusan salah satu oknum Kepolisian yang melakulan penembakan terhadap korban atas nama Salman tersebut adalah salah satu upaya untuk mengintimidasi masyrakat pemilik lahan di desa Tue-tue kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang mencoba mempertahankan lahan yang sedang dipersengketakan dengan perusahaan pertambangan TP. Gerbang Multi Sejahtera (GMS).

“Dengan kejadian itu, kita beranggapan bahwa, pihak kepolisian bukan lagi pengayom masyarakat, Pihak kepolisian melakukan intimidasi kepada masyarakat,” kata La Ode Inta, Senin (22/1/2018).

Lebih lanjut, Inta mengatakan, sebagai pelayan masyarakat yang bertugas menyelenggarakan dan menciptakan keamanan di dalam negeri, pihak Kepolisian harusnya lebih hati-hati dalam menidaki masyarakat secara langsung, utamanya bagi masyarakat yang dinilai memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai persoalan yang diperkarakan.

“Masyarakat disana (Desa Tue-tue) minim pendidikan, harusnya tidak langsung ditindaki dan dilakukan penembakan, harusnya mereka diberikan pemahaman terlebih dahulu mengenai persoalan yang sedang mereka hadapi,” lanjutnya.

Untuk itu, Ratusan mahasiswa yang terdiri dari berbagai lembaga yakni, Badan Eksekutif (Bem) UHO, MPM, dan Perwakilan Mahasiswa Konsel tersebut menuntut agar Insiden penembakan itu diusut tuntas.

“Harapan kami sebagai keluarga besar mahasiswa, perlu diusut tuntas kasus ini karena kami menganggap pihak Kepolisian telah mengawal perusahaan yang masih ilegal untuk masuk ke wilayah Sultra,” ujarnya