Buka Keran Ekspor 2021, Biji Mete Sultra dari Buton Utara Pasok Pasar Vietnam
Keterangan Gambar : Gubernur Sultra, Ali Mazi, mengekspor 48 ton  Biji Mete dari Kabupaten Buton Utara (Butur) ke negara tujuan ekspor Vietnam

Buka Keran Ekspor 2021, Biji Mete Sultra dari Buton Utara Pasok Pasar Vietnam

0

Kendari, Radarsultra.co.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengekspor 48 ton  Biji Mete dari Kabupaten Buton Utara (Butur) ke negara tujuan ekspor Vietnam.

Pelepasan Biji mete atau Anacardium occidentale dengan nilai perdagangan sekitar Rp 939 juta ini difasilitasi oleh  Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Kendari dan diberangkatkan melalui Pelabuhan New Port Kendari.

Gubernur Sultra, Ali Mazi, yang hadir dan meresmikan pelepasan perdana biji mete diawal tahun 2021 ini memberikan dukungan dan mendorong penuh terhadap upaya peningkatkan ekspor.

Selain biji mete banyak hasil pertanian ekspor unggulan di Provinsi Sulawesi Tenggara, antara lain  kopra, kakao, beras, cengkeh, jagung, lada, kemiri dan sarang burung walet,” kata Ali Mazi, Jumat, (15/01/2021).

Sementara itu, Bupati Buton Utara, Abu Hasan mengatakan, mete biji yang diekspor kali ini hanya sebagian kecil dari yang direncanakan yaitu sebanyak 700 ton atau setara 58 kontainer.

Sebenarnya kalau bukan covid rencananya akan diekspor 700 ton atau setara 58 kontainer. Yang terekspor hari ini belum ada 10 % dari produksi Buton Utara yang memiliki luas lahan 7000 Ha dan produksi kurang lebih 4000 ton per tahun,” kata Abu Hasan dalam sambutannya pada acara pelepasan ekspor perdana mete biji di  Pelabuhan New Port Kendari.

Lanjut, mantan Karo Humas Provinsi Sultra itu mengungkapkan, pemerintah Buton Utara telah tiga kali mengekspor komoditas dari Buton Utara dan melaksanakan program kementrian pertanian Gerakan Tiga Kali Ekspor atau GRATIEKS.

Yang pertama pada bulan mei 2020 ekspor kopra putih sebanyak 1 kontainer ke China dengan mitra PT Inacom, yang Kedua pada bulan November ke Australia 2020 dengan komoditas beras organic wakawondu dan ikan bete bete. Bermitra dengan Peter East Melbourne dan yang ketiga ke Vietnam. Seharusnya bulan Desember karena kapal dan container ekspor agak sulit sehingga tertunda sampai bulan Januari,” ungkapnya.

Terlaksananya ekspor komoditi di tengah Pandemik Covid-19 ini juga tidak lepas dari dukungan Badan Karantina Pertanian Kendari yang memastikan biji mete telah layak ekspor.

Ekspor kali ini terlaksana atas kerjasama Pemda Buton Utara dan pengusahanya, kami selaku otoritas karantina memfasilitasi ekspor dengan memastikan biji mete telah memenuhi persyaratan teknis,” kata N. Prayatno Ginting, Kepala Karantina Pertanian Kendari sesaat setelah lakukan penyerahan sertifikat karantina atau Phytosanitary Certificate (PC) di Kendari.

Kepala Pusat Kepatuhan, Kerjasama dan Informasi Perkarantinaan, Junaidi yang hadir mewakili Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) menyebutkan bawa peluang dan potensi ekspor komoditas asal sub sektor perkebunan ini sangat besar.

Dari data pada sistem perkarantinaan, IQFAST Barantan secara nasional tercatat adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Di tahun 2020 tercatat 288,3 ribu ton atau meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding tahun 2019 yang hanya  141,7 ribu ton saja.

Sementara itu, biji mete asal Indonesiapun telah menjadi langganan di enam negara tujuan, yakni Vietnam, India, Srilanka, Kamboja, Jerman, Republik Czech,” tambah Junaidi.

Untuk data lalu lintas ekspor biji mete di Sultra, Prayatno menyebutkan ekspor biji mete diwilayah kerjanya tercatat rutin dikirim ke negara India dan Vietnam dalam dua tahun terakhir.

Ditahun 2020, volume ekspor biji mete mencapai 103,7 ton dengan nilai perdagangan mencapai Rp 15,5 miliar. “Angka ekspor biji mete Sultra sebesar 0,6% dari total perdagangan domestik biji mete Sultra,” kata Prayatno.

Dikatakan Prayatno lagi, pihaknya mencatat volume biji mete yang dilalulintaskan ke Makassar maupun ke Surabaya di tahun 2020 mencapai 15,6 ribu ton dengan total nilai Rp 80,13 miliar. Selain Kabupaten Buton Utara, terdapat kabupaten lainnya di Sultra yang memiliki potensi ekspor biji mete.

Penghasil mete di Sultra hampir seluruh kabupaten, khususnya jazirah Muna dan Buton, harapannya juga bisa diekspor. Dengan gerakan tiga kali ekspor pertanian yang digagas Menteri Pertanian (Syahrul Yasin Limpo, red) kami siap untuk memfasilitasi petani biji mete untuk menangkap pasar ekspor yang lebih besar lagi,” jelas Prayatno.

Sebagai informasi, Gratieks adalah program upaya peningkatan ekspor pertanian yang dikomandani Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil. Melalui gerakan ini Kementan bersama-sama dengan berbagai entittas menargetkan nilai ekspor meningkat tiga kali lipat hingga tahun 2024.

Ini tidak boleh berhenti, harus berjalan terus, gali terus potensi ekspor komoditas pertanian Indonesia agar produk pertanian kita lebih luas lagi jangkauannya di pasar internasional,” pungkas Junaidi.