Bercucuran Air Mata, Honorer K2 Curhat ke Hugua
Keterangan Gambar : Madeyang tenaga honorer k2 sultra

Bercucuran Air Mata, Honorer K2 Curhat ke Hugua

168 views
0

Kendari, Radarsultra.co.id – Puluhan tahun mengabdi tanpa ada kejelasan nasib dari pemerintah tentu saja membuat para honorer Kategori Dua (K2) seakan hilang harapan.

Mencoba mencari keadilan, Perkumpulan Honorer K2 (PHK2) Indonesia menyambangi kediaman Ir. Hugua sebagai Anggota Komisi II (dua) DPR-RI yang terus lantang memperjuangkan hak-hak para honorer seluruh Indonesia di Senayan.

Perkumpulan Honorer K2 (PHK2) Indonesia menyambangi kediaman Ir. Hugua Anggota Komisi II (dua) DPR-RI

Hari ini kami berkunjung ke rumah pak Ir. Hugua, kami meminta beliau bagaimana nasib kami supaya kedepannya kami bisa diagendakan untuk RDP di DPR-RI komisi 2 khususnya dari forum kami,” kata Koordinator Wilayah (Korwil) Perkumpulan Honorer K2 Indonesia, Madeyang, S.Pd saat ditemui di kediaman Hugua, Jumat, (29/11/2019).

Sudah menjadi rahasia umum, kehidupan honorer di Indonesia sangat memprihatikan dan jauh dari kata sejahtera, beban kerja dan kontribusi terhadap instansi tempatnya mengabdi tidak setimpal dengan upah yang diterima tiap triwulannya.

Madeyang mengatakan, ia dan rekan-rekan honorer se-Sulawesi Tenggara (Sultra) sudah mengabdi sejak 1 Januari 2005 dan telah melewati tiga peraturan pemerintah, namun hingga saat ini impian untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) belum juga terwujud.

Sangat memprihatikan, kami mengabdi minimal sejak 1 Januari 2005 berdasarkan peraturan pemerintah nomor 48 kemudian peraturan pemerintah nomor 37 tahun 2007, kemudian masuk lagi peraturan pemerintah nomor 56 tahun 2012 Inilah peraturan pemerintah yang terakhir yang pernah kami lewati melalui tes pemberkasan dan seterusnya sebagian honorer K2 nya sudah diangkat tetapi nasib kami yang sebagian masih 439.500 seluruh Indonesia belum diperhatikan oleh pemerintah,” ungkap Madeyang.

Madeyang menjelaskan, gaji yang diberikan kepada tenaga honorer sangat tidak setimpal dengan kontribusi dan pengabdian yang telah diberikan kepada perintah. Gaji tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Kalau kami honorer itu apa yang dikatakan pemerintah pusat bahwa kami sejahtera itu tidak benar. Karena kami digaji perjam itu 10.000 bagi guru, jadi kalau banyak jamnya bisa kami dapat 3 bulan gajian 700 ribu lebih. Tiga bulan kami gajian karena gajianpun kami dari Komite atau bos, itu saja yang kami terima, kalau instansi lain mereka kadang dikasih 50.000 perbulan, seperti pak Udin yang dari Buton dia di kantor camat 50.000 perbulan,” lanjutnya.

Menanggapi hal tersebut, sebagai wakil rakyat, Hugua merasa bertanggung jawab untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat. Ia mengatakan Honorer K2 adalah utang negara yang harus diselesaikan.

Jadi sebetulnya K1, K2 ini adalah sub sistem dari sistem honorer yang diakui oleh negara. Oleh karena itu, maka K2 harus diselesaikan karena dia (K2) sub sistem dari sistem. Jadi tidak ada alasan dengan cara apapun. K2 ini komitmen negara, hutang negara, jadi harus diselesaikan,” kata Hugua.

Hugua juga mengatakan, dirinya tidak sependapat jika alasan seorang honorer yang sudah mengabdi selama puluhan tahun dan tidak diangkat menjadi PNS karena dianggap tidak berkompeten.

Yang mengatakan itu, Justru mereka yang tidak kompeten. Revisi Undang-undang ASN masuk dalam Prolegnas DPR RI melalui Komisi II. Untuk itu, tidak salah jika PHK2 khususnya wilayah Sultra, mengadu,”

Salah satu point yang harus direvisi, yakni bagaimana UU ini bisa mengakomodir pengangkatan para tenaga honorer K2, dengan penekanan tanpa harus mengikuti proses tes,” lanjutnya.